Google secara agresif memperbarui strategi perambannya dengan menyuntikkan kemampuan AI tingkat lanjut ke dalam Chrome, sebuah langkah yang dirancang untuk menangkal ancaman dari browser generasi baru seperti Arc dan mesin pencari berbasis chat seperti Perplexity. Pembaruan yang diluncurkan pada 28 Januari 2026 ini membawa integrasi Gemini yang jauh lebih ketat, tidak hanya sebagai sidebar pendamping, tetapi sebagai mesin penggerak utama. Fitur yang paling menonjol adalah pengenalan kemampuan "agentic", di mana Chrome kini dapat mengambil alih kendali navigasi untuk menyelesaikan tugas-tugas multi-langkah secara otonom. Ini menandai pergeseran fundamental dari paradigma point-and-click tradisional menjadi pengalaman web yang berpusat pada niat (intent-based), di mana pengguna cukup menyatakan tujuan akhir mereka dan membiarkan AI menangani proses klik dan gulir yang membosankan.
Teknologi di balik fitur ini memanfaatkan model Gemini Nano yang berjalan lokal untuk kecepatan, serta model yang lebih besar di cloud untuk penalaran kompleks. Dalam demonstrasinya, Google memamerkan bagaimana pengguna dapat memberikan perintah seperti "temukan penerbangan termurah ke Bali minggu depan dan masukkan ke kalender saya". Chrome kemudian akan secara otomatis membuka situs perjalanan, membandingkan harga, mengekstrak data relevan, dan melakukan tindakan konfirmasi, sementara pengguna dapat melihat proses tersebut berjalan secara real-time. Selain itu, fitur riwayat pencarian yang ditingkatkan dengan AI memungkinkan pengguna untuk bertanya dalam bahasa alami tentang halaman yang pernah mereka kunjungi, seperti "tunjukkan sepatu merah yang saya lihat minggu lalu", dan Chrome akan memunculkan kembali konten spesifik tersebut tanpa perlu mengingat URL.
Peluncuran ini menegaskan bahwa Google tidak berniat melepaskan dominasi pasar browser mereka tanpa perlawanan sengit. Dengan menyatukan kemampuan browsing, pencarian, dan tindakan eksekusi dalam satu antarmuka, Google berusaha menciptakan super-app versi desktop yang membuat pengguna tetap terikat dalam ekosistem mereka. Meskipun fitur agen otonom ini menjanjikan lonjakan produktivitas yang masif, hal ini juga memunculkan pertanyaan baru mengenai privasi dan keamanan data, mengingat AI kini memiliki akses lebih dalam untuk berinteraksi dengan akun pribadi pengguna di berbagai situs web. Google menjamin bahwa fitur ini dilengkapi dengan kontrol keamanan berlapis, di mana konfirmasi pengguna tetap diperlukan untuk tindakan sensitif seperti pembayaran, memastikan bahwa otonomi AI tetap berada di bawah pengawasan manusia sepenuhnya.