Valuasi Airtable Anjlok $7 Miliar, Pendiri Justru Sebut Era Sebelumnya Hanya Pemanasan

Valuasi turun tajam dari puncaknya. Howie Liu rilis SuperAgent, transformasi total Airtable dari alat no-code jadi platform agen AI otonom.

2 Jan 2026 • 2 menit membaca

RadarAI.id | Valuasi Airtable Anjlok $7 Miliar, Pendiri Justru Sebut Era Sebelumnya Hanya Pemanasan

Airtable, perusahaan yang mempopulerkan konsep no-code database, kini menjadi sorotan utama setelah valuasinya dilaporkan mengalami penurunan drastis sebesar $7 miliar dari nilai tertingginya yang pernah mencapai $11,7 miliar pada tahun 2021. Koreksi pasar ini mencerminkan tren deflasi yang melanda sektor perangkat lunak pasca-pandemi. Namun, alih-alih bersikap defensif, CEO dan pendiri Airtable, Howie Liu, justru melihat momen ini sebagai peluang untuk melakukan "refounding" atau pendirian ulang perusahaan. Dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch, Liu menegaskan bahwa apa yang telah dicapai Airtable sejauh ini "hanyalah pemanasan" menuju ambisi sebenarnya: mendominasi lapisan aplikasi perusahaan di era kecerdasan buatan.

Sebagai bukti keseriusannya, Airtable meluncurkan SuperAgent, sebuah produk baru yang menandai pergeseran fundamental model bisnis mereka. Jika sebelumnya Airtable berfungsi sebagai tempat penyimpanan data yang statis, SuperAgent memungkinkan pengguna untuk menyebarkan agen AI otonom yang dapat melakukan pekerjaan nyata—seperti memproses faktur, mengelola inventaris, atau merespons pelanggan—secara otomatis di latar belakang. Fitur ini dibangun di atas infrastruktur data Airtable yang sudah matang, memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing yang hanya menawarkan lapisan AI tanpa konteks data terstruktur yang mendalam. Liu percaya bahwa kombinasi antara data yang rapi dan agen cerdas adalah kunci untuk memenangkan pasar enterprise di dekade mendatang.

Langkah berani ini juga dibarengi dengan restrukturisasi internal dan perubahan budaya kerja yang lebih ramping. Liu mengakui bahwa valuasi jumbo di masa lalu sempat membuat perusahaan terlena, dan koreksi ini memaksanya untuk kembali ke mentalitas pendiri yang agresif. Dengan cadangan kas yang masih kuat dan fokus produk yang diperbarui tajam ke arah otomatisasi berbasis agentic AI, Airtable berupaya membuktikan bahwa mereka bukan sekadar "unicorn" zaman pandemi yang lewat, melainkan tulang punggung infrastruktur bisnis masa depan. Bagi Liu, penurunan valuasi hanyalah angka di atas kertas, sementara revolusi sesungguhnya baru saja dimulai di layar monitor pengguna.

Kembali