Komunitas medis global kini menyambut hati-hati gelombang produk kecerdasan buatan (AI) khusus kesehatan dari raksasa teknologi seperti OpenAI dan Anthropic. Laporan TechCrunch menyoroti bahwa meski dokter mengakui potensi transformatif AI, mereka sangat skeptis terhadap penggunaan chatbot untuk interaksi pasien langsung. Kekhawatiran utama meliputi risiko "halusinasi" AI, di mana chatbot memberikan saran medis yang terdengar meyakinkan namun secara faktual tidak akurat, serta ketidakmampuan algoritma memahami nuansa emosional yang krusial dalam perawatan pasien. Jutaan orang yang kini berkonsultasi dengan AI untuk masalah kesehatan memicu alarm bagi para profesional yang memprioritaskan keselamatan di atas kenyamanan teknologi.
Dr. Sina Bari, ahli bedah dan pakar AI di iMerit, membagikan contoh nyata bahaya ini. Ia menceritakan insiden di mana pasien menerima statistik risiko medis menakutkan dari chatbot, yang ternyata datanya diambil dari studi pasien tuberkulosis yang sama sekali tidak relevan dengan kondisi pasien itu. Selain masalah akurasi fatal, isu keamanan privasi data medis sensitif dan ketidakjelasan liabilitas hukum jika terjadi kesalahan algoritma menjadi penghalang besar. Profesional medis menegaskan bahwa kedokteran bukan sekadar pemrosesan data, melainkan butuh koneksi manusia dan empati yang mustahil direplikasi oleh mesin yang "tanpa jiwa" dan seringkali bias dalam memberikan diagnosa.
Namun, optimisme tetap tumbuh pada fungsi pendukung di balik layar. Tokoh industri seperti Dr. Nigam Shah dari Stanford menyarankan agar fokus AI dialihkan untuk meringankan beban administrasi masif yang menyita waktu tenaga medis. Inovasi seperti ChatEHR yang menyederhanakan interaksi dengan rekam medis elektronik dinilai jauh lebih bermanfaat. Dengan menyerahkan tugas birokrasi repetitif dan analisis data kompleks kepada AI, dokter berharap dapat membebaskan diri untuk kembali mencurahkan waktu berkualitas merawat pasien secara tatap muka. Masa depan AI medis idealnya terletak pada efisiensi sistem pendukung, bukan penggantian peran dokter dalam konsultasi klinis.