Langkah OpenAI bermitra dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) memicu protes keras dari penggunanya. Keputusan kontroversial ini terungkap usai mereka mengambil alih kontrak militer yang ditolak Anthropic. Dalam sebuah sesi diskusi, CEO Sam Altman menyebut kesepakatan itu "ceroboh", namun mempertahankannya demi keamanan nasional. Pembelaan ini gagal meredam kemarahan publik yang menolak keras pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mesin perang, pengawasan, atau sistem senjata otonom.
Akibat gelombang protes tersebut, aplikasi seluler ChatGPT mengalami eksodus pengguna yang masif. Berdasarkan data Sensor Tower yang dilansir TechCrunch, tingkat uninstal aplikasi di AS melonjak tajam hingga 295% hanya dalam satu hari setelah berita kesepakatan itu menyebar luas. Angka ini merupakan anomali drastis, mengingat rata-rata penghapusan harian normal hanya sekitar 9%. Selain itu, para pengguna yang kecewa turut melancarkan protes digital, menyebabkan ulasan bintang satu meroket tajam hingga 775% di berbagai toko aplikasi digital.
Ironisnya, badai publisitas negatif yang menghantam OpenAI ini justru menjadi keuntungan besar bagi pesaing utamanya, Anthropic. Perusahaan yang sebelumnya dicoret Pentagon karena menolak melonggarkan standar keamanan AI tersebut kini menuai dukungan publik. Pengguna yang memboikot ChatGPT secara massal beralih menggunakan Claude, membuat unduhan aplikasinya melesat drastis dan berhasil memuncaki daftar aplikasi gratis Apple. Fenomena ini menegaskan bahwa etika bisnis sangat menentukan kepercayaan konsumen di tengah polemik teknologi militer.