Artikel analisis dari The Conversation menyoroti bahwa perilisan strategi Data, Analytics, and Artificial Intelligence Adoption terbaru oleh Departemen Pertahanan AS bukan hanya sekadar panduan teknis, melainkan sebuah manuver geopolitik yang disebut sebagai peacocking. Penulis berargumen bahwa tujuan utama dokumen ini adalah pensinyalan strategis kepada pesaing utama, khususnya China dan Rusia. Dengan mempublikasikan rencana adopsi AI yang komprehensif, AS berusaha menunjukkan bahwa mereka memiliki infrastruktur organisasi dan kematangan teknologi yang belum bisa ditandingi oleh lawan. Ini adalah bentuk pencegahan modern, di mana pameran kapabilitas algoritma digunakan untuk mencegah konflik fisik dengan meyakinkan musuh bahwa mereka akan kalah telak jika berani menantang supremasi militer Amerika.
Strategi ini sarat dengan ketegangan antara narasi "AI yang bertanggung jawab" (Responsible AI) dan kebutuhan akan letalitas militer. AS mencoba membedakan dirinya dari rezim otoriter dengan menekankan kepatuhan pada hukum humaniter internasional dan kontrol manusia yang ketat. Namun, paradoks muncul ketika "tanggung jawab" ini dijadikan senjata retorika untuk melegitimasi pengembangan senjata otonom yang lebih canggih. Inisiatif nyata seperti program Replicator, yang bertujuan memproduksi ribuan sistem tak berawak murah dalam waktu singkat, menjadi bukti fisik dari ambisi ini. Pesan tersiratnya jelas: sistem AI Amerika tidak hanya lebih pintar dan etis, tetapi juga lebih efektif dalam menghancurkan target dibandingkan sistem buatan lawan yang dianggap "ceroboh".
Implikasi jangka panjang dari pendekatan peacocking ini sangat serius bagi stabilitas global. Dengan membingkai perlombaan teknologi sebagai pertarungan antara nilai-nilai demokratis dan otoriter, AS berisiko memicu eskalasi perlombaan senjata tanpa akhir. Negara lain mungkin merasa terpojok dan terdorong untuk mengabaikan protokol keselamatan demi mengejar ketertinggalan, menciptakan lingkungan keamanan yang justru lebih volatil. Analisis tersebut memperingatkan bahwa ketika negara-negara besar berlomba memamerkan otot digital mereka, garis batas antara demonstrasi kekuatan dan provokasi perang menjadi semakin kabur, menyeret dunia ke dalam era ketidakpastian baru di mana kode komputer memiliki daya rusak setara amunisi konvensional.