Survei Randstad: Lebih dari Seperempat Warga Inggris Takut Kehilangan Pekerjaan Akibat AI

Gen Z paling cemas soal dampak AI. Survei global ungkap kesenjangan harapan antara karyawan dan perusahaan terkait adopsi teknologi otomatisasi.

2 Jan 2026 • 2 menit membaca

RadarAI.id | Survei Randstad: Lebih dari Seperempat Warga Inggris Takut Kehilangan Pekerjaan Akibat AI

Sebuah survei berskala besar yang dilakukan oleh firma rekrutmen internasional Randstad menyingkap tingkat kecemasan yang tinggi di kalangan pekerja Inggris terkait masa depan karir mereka di era otomatisasi. Data menunjukkan bahwa lebih dari seperempat (27%) responden merasa terancam bahwa peran mereka akan lenyap diambil alih oleh Artificial Intelligence dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Fenomena ini terjadi di tengah gelombang investasi teknologi yang agresif, di mana dua pertiga (66%) pemberi kerja di Inggris melaporkan telah menggelontorkan dana untuk infrastruktur AI selama 12 bulan terakhir. Namun, antusiasme korporat ini tampaknya tidak sejalan dengan sentimen pekerja, menciptakan apa yang disebut peneliti sebagai "mismatched AI expectations" atau ketimpangan harapan yang signifikan antara manajemen dan staf.

Secara demografis, survei yang melibatkan 27.000 pekerja di 35 negara ini menemukan bahwa Generasi Z (kelahiran 1997-2012) adalah kelompok yang paling rentan merasa cemas akan kemampuan mereka beradaptasi. Sebaliknya, generasi Baby Boomers yang mendekati masa pensiun cenderung lebih tenang. Ketimpangan ini diperparah oleh persepsi manfaat; kurang dari setengah (45%) pekerja kantor di Inggris percaya bahwa AI akan membawa dampak positif bagi karyawan, sementara mayoritas merasa teknologi tersebut hanya akan mempertebal keuntungan perusahaan. Hal ini diperkuat dengan temuan bahwa peran-peran "transaksional dengan kompleksitas rendah" menjadi target utama otomatisasi, yang seringkali merupakan pintu masuk karir bagi pekerja muda.

Menanggapi temuan ini, Sander van 't Noordende, kepala eksekutif Randstad, menegaskan perlunya perubahan narasi dalam implementasi teknologi. Ia menyarankan agar AI tidak dipandang sebagai rival tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang memperkuat kemampuan manusia. Senada dengan itu, Jamie Dimon, bos JP Morgan, dalam forum terpisah di Davos juga telah memperingatkan risiko sosial yang serius jika pemerintah dan bisnis gagal mengelola transisi ini dengan baik. Tanpa jaring pengaman dan pelatihan ulang (reskilling) yang memadai bagi mereka yang terdampak, disrupsi teknologi ini berpotensi memicu ketidakstabilan sosial atau "civil unrest" di masa depan, menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar masalah efisiensi ekonomi, tetapi juga stabilitas kemasyarakatan.

Kembali