CEO Anthropic, Dario Amodei, memicu perdebatan panas di ajang World Economic Forum (WEF) Davos 2026 setelah melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan ekspor teknologi Amerika Serikat. Sasaran kritiknya adalah keputusan administrasi terbaru yang melonggarkan larangan penjualan chip AI berkinerja tinggi, khususnya seri H200 buatan Nvidia, kepada pembeli di China. Amodei menilai kebijakan ini sebagai kesalahan fatal dengan "implikasi keamanan nasional yang luar biasa". Ia berpendapat bahwa memberikan akses perangkat keras canggih kepada rival geopolitik utama sama saja dengan menyerahkan kunci dominasi masa depan, sebuah langkah yang ia sebut "gila" dan membahayakan supremasi teknologi Barat dalam jangka panjang.
Komentar ini menjadi sorotan utama karena posisi unik Amodei; Nvidia bukan hanya pemasok GPU dominan, tetapi juga investor strategis yang telah menyuntikkan miliaran dolar ke dalam Anthropic. Secara historis, pendiri startup jarang sekali mengkritik pendukung finansial mereka di panggung global. Namun, Amodei menegaskan bahwa risiko eksistensial yang ditimbulkan oleh AI melampaui etika bisnis korporat biasa. Ia membantah argumen bahwa pembatasan ekspor merugikan inovasi AS, justru menekankan bahwa China saat ini tertinggal dalam perlombaan AI semata-mata karena kurangnya daya komputasi mentah—sebuah kesenjangan yang kini terancam ditutup oleh kebijakan ekspor baru tersebut.
Pernyataan tersebut mencerminkan ketegangan yang semakin nyata antara faksi "akselerasionis" yang ingin memaksimalkan penyebaran teknologi demi keuntungan ekonomi, dan faksi "safety-first" yang diwakili Amodei. Nvidia, di sisi lain, berulang kali berargumen bahwa kontrol ekspor yang terlalu ketat hanya akan memicu China untuk mempercepat pengembangan industri semikonduktor domestik mereka sendiri. Namun bagi Amodei, argumen tersebut tidak sebanding dengan risiko memberikan "otak digital" kepada rezim otoriter. Insiden di Davos ini menandai titik balik di mana para pemimpin teknologi mulai mengambil peran aktif sebagai arsitek kebijakan keamanan nasional, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan hubungan harmonis dengan raksasa industri lain.